Menu

Ada Diskriminasi Aksi Supporter untuk Palestina, Rohingya dan Ulama

Bandung ~  Sebuah renungan yang mengusik akal sehat kita ketika aksi suporter yang mendukung aksi kemanusiaan yang muslim sebagai korbanya ditindak, didenda, sementara ketika yang lain mendapat dukungan. Artikel ini kami kutip dari situs bobotoh.id

Sepak bola adalah simbol persatuan, demikian kurang lebih semangat yang ditularkan di Stadion Wembley pada laga persahabatan antara Inggris dan Perancis, Selasa (17/11/2015) silam.

Semangat itu lahir akibat insiden penembakan dan pengeboman di Paris – salah satunya terjadi di luar Stade de France saat pertandingan timnas Perancis melawan Jerman beradu, pada Jumat (13/11/2015). Akibatnya 129 jiwa tewas akibat insiden itu. Baca juga : Dukung Bobotoh, Pemuda Muhammadiyah Ajak Gerakan #KoinUntukPSSI

Stadion Wembley dihiasi bendera Prancis, bahkan di beberapa bagian warna bendera Prancis menjadi dekorasi. Aksi di Stadion Wembley hanyalah segelintir dari sejumlah momen solidaritas pada laga-laga sepak bola yang terjadi pada Selasa malam itu

Pada sejumlah pertandingan lain, “one minute silence” juga dilakukan sebelum laga untuk mengenang insiden Paris. Adakah tindakan UEFA dan FIFA saat itu? Tidak ada.

Berbeda dengan saat suporter Celtic mengibarkan bendera Palestina pada saat Celtic menghadapi Hapoel Be’er Sheva bulan Agustus 2016 di Glasgow, Skotlandia. UEFA menghukum Celtic akibat suporter Celtic (yang mayoritas beragama Kristen Katolik) mendukung gerakan kemerdekaan Palestina.

Di Indonesia, Komdis menjatuhkan sanksi pada Persija Jakarta usai The Jakmania membentangkan spanduk yang bertuliskan ‘Jangan Ganggu Ulama Kami Menyampaikan Kebenaran’. Spanduk yang dianggap bernada SARA itu dipasang di Stadion Patriot Candrabhaga pada saat Persija menjamu PS. TNI pada putaran I Liga 1, 8/6/2017.

Komdis PSSI menjatuhkan sanksi pada Sriwijaya FC. Sanksi dijatuhkan karena suporter SFC membuat koreo bendera Palestina stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang, 8/6/2017.

Kali ini Persib yang mendapat giliran sanksi sebesar Rp. 50 juta. Sanksi dijatuhkan Kamis, 14/9/2017 setelah Komdis PSSI menganggap Bobotoh membawa unsur-unsur SARA yang dilarang merujuk pada ‘Law of The Game’ FIFA.

Pertanyaannya yang lahir adalah: kenapa Ulama, Palestina dan Rohingya dianggap bernuansa SARA? Padahal jelas aksi Pray For Paris juga memiliki semangat yang sama? Dan dilakukan oleh mayoritas warga dunia yang beragama sama dengan korban di Paris?

Tentu ini hanya lentik pikiran dan opini yang terinspirasi juga celoteh di linimasa Twitter maupun Facebook. Mengapa Pray For Paris dilegalisasi FIFA sedang Palestina dan Rohingya dianggap ilegal? Ada yang bisa bantu jawab? (Bobotoh.id/RCK)

 

Dunia sepak bola memang kerap memiliki sisi lainnya sisi dimana ada saja yang menyita perhatian kita. Dunia sepak bola memang bukan sekedar menggelindingnya bola diantara dua gawa. Sepak bola tidak sekedar menjadi ajang olah raga, namun sekarang menjadi jalan bisnis, pergerakan, dan aksi-aksi tak terduga lainnya seperti aksi untuk rohingnya

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter