Menu

Kini Ada Momentum Tepat untuk Menerapkan Konsep Al-wala’ wal-Bara’ (Al-Wala’ Wal-Bara’ 4)

     Konsep al-wala’ wal-bara’ dalam Islam tidak lahir di ruang hampa. Ia benar-benar ada, sebagai bentuk proses dialektis dalam masyarakat nyata. Oleh karena itu, secara kesejarahan, kita bisa memetik hikmah dan teladan dari para pendahulu (sahabat)  ataupun dari para nabi. Dan pada zaman sahabat serta zaman nabilah, penentangan dakwah tauhid yang paling keras. Serta paling berat resikonya.

Dengan adanya teladan itu, konsep al-wala’ wal-bara’ jadi sangat mungkin untuk diterapkan atau dipraktekkan. Dan kini umat Islam sesungguhnya sedang mendapatkan momentum yang sangat tepat untuk menyata-laksanakannya, karena  Basuki Tjahaja Purnama dan kroni-kroninya ditengarai menjadi anthek kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam di kancah sosial-politik-relijius domestik Indonesia.

Pertama, sikap al-wala’ Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap Rasulullah SAW., dan sikap al-bara’-nya terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul (sang bapaknya sendiri sebagai tokoh munafiq terkemuka). Sang anak sangat marah ketika mengetahui sang bapak mulai berani unjuk diri atas kemunafiqannya. Maka sang anak mohon ijin kepada Rasulullah SAW. untuk memenggal kepala sang bapaknya sendiri.

Kedua, sikap al-wala’ Kaum Anshar terhadap Kaum Muhajirin. Kaum Anshar dengan suka-rela dan suka-cita menerima kedatangan Kaum Muhajirin dari Makkah. Kaum Anshar memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh Kaum Muhajirin. Ada yang memberikan uangnya, ada yang memberikan sebidang tanahnya, ada yang memberikan tempat tinggal, ada yang memberikan ikatan persaudaraan, ada yang memberikan isterinya, dan lain-lain.

Ketiga, sikap al-wala’ Nabi Ibrahim AS. Terhadap Allah SWT., dan sikap al-bara’-nya terhadap  bapaknya sendiri (tokoh musyrik terkemuka). Nabi Ibrahim AS. dengan teguh, siap sedia berpisah dengan bapaknya (atau keluarganya) yang menentang dakwah tauhidnya. Dan di negeri orang yang serba memprihatinkan, Nabi Ibrahim AS. tetap konsisten mendakwahkan tauhid, demi cintanya kepada Allah SWT.

Keempat, sikap al-wala’ Rasulullah SAW. terhadap Allah SWT., dan sikap al-bara’-nya terhadap tokoh-tokoh kafir Quraisy (yang juga paman-pamannya sendiri). Rasulullah SAW. menolak dengan tegas semua tawaran-tawaran mereka untuk menjadi raja atau penguasa, untuk jadi orang terkaya, dan bebas untuk mendapatkan wanita-wanita tercantik. Rasulullah SAW. menyatakan dengan sangat terang-benderang : “Andaikata kalian mampu meletakkan matahari di tangan kananku, dan meletakkan bulan di tangan kiriku sekalipun, aku tidak akan pernah menghentikan dakwah ini !

Dengan keempat teladan indah tersebut di atas, masihkah kita umat Islam ragu terhadap konsep al-wala’ wal-bara’? Sedangkan konsep inilah yang paling ditakuti musuh-musuh Islam. Ternyata ini bukan perkara pilih-memilih belaka. Ternyata ini adalah perkra yang berkait erat dengan hidayah dan kekuatan iman seseorang. (bersambung)

 

Ditulis oleh : Drs. Budi Nurastowo Bintriman

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah TABLIGH, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter