Menu

Pemikiran Islam, Bencana dan Azab

Belakangan ini di jejaring social baru hangat diperbincangkan oleh sebagian kalangan, mengenai judul berita, setidaknya dari dua media online ternama yakni “Muhammadiyah: Jangan Kaitkan Bencana dengan Azab Bagi yang Melakukan Maksiat” oleh detik.com [1] dan “Muhammadiyah: Tak Boleh Ada Pikiran Bencana adalah Hasil Maksiat” oleh Republika.or.id. Judul yang membawa prokontra terutama dari kalangan Muhammadiyah. [2]

Banyak spekulasi muncul, beberapa mengkritisi ada juga yang membela pernyataan itu. Namun, paling tidak kita tahu bahwa judul itu ditulis berdasarkan kata-kata narasumber yakni : “Masyarakat cenderung memaknai bencana sebagai bentuk kemarahan Tuhan. Tidak boleh ada pikiran bencana adalah hasil maksiat”.

Membaca kata-kata itu kita diingatkan oleh kata-kata tokoh Islam Liberal. Ulil Absor Abdala beberapa waktu yang lalu juga mengkritik pejabat yang mengaitkan bencana alam dengan azab Tuhan. Ulil mengatakan, “Ada semacam template di kitab suci tentang bencana. Misalnya, ada cerita saat manusia membangkang kepada Tuhan kemudian Tuhan menghancurkan seluruh muka bumi. Nah, waktu sekarang ada bencana, para tokoh ini langsung mengambil template itu. Menurut saya, jangan dihubung-hubungkan, ini proses alam saja.”[3]

Mengapa ada pemikiran seperti ini? Hal ini dipengaruhi oleh pandangan alam (worldview) –setidaknya di dunia ini sekarang ada dua Worldview yang bertahan dan besar, yakni Western worldview dan Islamic Worldview.

Worldview Barat sekuler tersebut dibawa masuk ke negeri-negeri muslim pada masa penjajahan kolonial. Memang saat ini para penjajah itu sudah hengkang, namun produk pendidikan sekuler warisan penjajah tersebut masih digunakan sampai sekarang. Pendidikan sekuler ini pada akhirnya menghasilkan krisis dualitas. Yang digambarkan dengan adanya dikotomi antara illmu agama dan ilmu non-agama.[4]

Menurut Salisu Shehu, worldview Barat sekuler ini bisa tampil dalam tiga bentuk, yaitu worldview humanis, agnostik, atau ateis. Pada worldview ini, kepercayaan terhadap keberadaan tuhan tidak terlalu diperhatikan. Kalaupun keberadaan tuhan disadari, tetap saja tidak dianggap memiliki signifikansi terhadap kehidupan. Lebih jauh, keberadaan tuhan dapat dianggap sebagai mitos dan hanya materi yang benar-benar nyata.

Lebih jauh Salisu menjabarkan bahwa worldview ini menganggap manusia bisa mengetahui alam cukup dengan mengandalkan dan mempercayai intelek dan inderanya saja. Ketepatan dan keakuratan mengenai dunia dapat diraih dengan melakukan postulasi dan penalaran secara rasional serta dengan melakukan observasi dan eksperimen melalui alat indera. Metode saintifik atau lebih tepatnya metode deduktif hipotetis merupakan satu satunya cara yang terpercaya untuk mendapatkan pengetahuan atau mencapai mana yang benar dan mana yang salah.

Ciri khas Sekulerisme adalah dualism. Sekulerisme mempertentangkan agama dengan sains, wahyu dengan akal, demokrasi dengan teokrasi dan sebagainya.

Pemahaman seperti ini kemudian menimbulkan keterbelahan yang bisa menganggap bencana itu adalah fenomena alam biasa, hingga larangan agar tidak boleh berpikiran bahwa “Bencana adalah Hasil Maksiat” atau “jangan kaitkan bencana dengan azab bagi yang melakukan maksiat”.

Pemikir Islam seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan bahwa Islam mempunyai pandangan alam yang jauh berbeda dari pandangan alam barat. Pandangan alam barat meletakkan humanism, rasionalisme dan sekularisme sebagai asas peradaban mereka. Sedangkan semua itu tidak diperlukan dalam ajaran Islam [5]

Terakhir, sebagai penutup tulisan ini mari kita renungkan ayat ini. Tabik! []

Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala menceritakan keadaan umat-umat terdahulu:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut: 40)

_______

  1. Rinaatriana “Muhammadiyah: Jangan Kaitkan Bencana dengan Azab Bagi yang Melakukan Maksiat” http://news.detik.com/berita/2957742/muhammadiyah-jangan-kaitkan-bencana-dengan-azab-bagi-yang-melakukan-maksiat Diakses 7 Juli 2015
  2. Erik Purnama Putra, “Muhammadiyah: Tak Boleh Ada Pikiran Bencana adalah Hasil Maksiat” http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/01/nqtcfj-muhammadiyah-tak-boleh-ada-pikiran-bencana-adalah-hasil-maksiat diakses 7 Juli 2015
  3. Heru Margianto “Jangan Kaitkan Bencana dengan Azab”,http://nasional.kompas.com/read/2010/11/05/11161855/Jangan.Kaitkan.Bencana.dengan.Azab-4 diakses 7 Juli 2015
  4. Irfan Habibie Martanegara, “Pengaruh Worldview Barat Sekuler terhadap Pikiran Umat Islam” http://pimpin.or.id/2012/06/12/pengaruh-worldview-barat-sekuler-terhadap-pikiran-umat-islam/ diakses 7 Juli 2015
  5. Muammar, Khalif. Atas Nama Kebenaran : Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, Akademi Kajian Ketamadunan, Kuala Lumpur, 2006

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter