Menu

Sumbu Pendek, Sumbu Panjang, dan Tidak Punya Sumbu

Belakangan ini disekitar kita berkembang istilah “sumbu pendek”, istilah digunakan untuk menyebut orang atau kelompok yang terlalu responsif menyikapi suatu hal. Namun pada perkembangannya istilah ini kerap dijadikan alat untuk menyerang orang-orang dianggap fundamentalis ataupun radikal. Walaupun kalau mereka mau jujur sebenarnya orang-orang yang mereka sebut fundamentalis ini, adalah orang yang ialah orang yang tidak memiliki kemampuan bertahan dari serangan-serangan itu, di sisi lain ilmu juga tidak ada. Mereka ini orang-orang apes, dituduh fundamentalis kemudian tidak bisa mengcounter, dilabeli sumbu pendek pula. Memang benar apes.

Kalau kita kuak lebih jauh, biasanya orang yang tertuduh sebagai “sumbu pendek” ialah orang yang sebenarnya sedang mencoba untuk konsisten terhadap apa yang menjadi keyakinannya dalam beragama, dan kita tahu hal ini dijamin kebebasannya oleh negara kita. Sah saja

Hanya saja, karena kelemahannya itu, atas tuduhan-tuduhan itu pula, ditambah dengan semangat yang ia miliki tidak diimbangi dengan keilmuan, maka ketika ia mendapat serangan dalam perang pemikiran reaksinya bisa dikatakan tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri maupun bagi agamanya. Mudah meledak dan Meledak-ledak, kira-kira mungkin begitu.. laiknya petasan yang sumbunya pendek. Begitu kena api, duar!

Sumbu panjang. Kaum sumbu panjang sebenarnya sama dengan kaum sumbu pendek bedanya yang bermili-mili atau bercenti-centi selisih panjang sumbu saja. Sederhananya sumbunya lebih panjang. Sama dengan kaum sumbu pendek, kaum ini juga kaum yang sebenarnya ingin konsisten dengan agamanya, setia dengan tuhannya. Kaum sumbu pendek dan kaum sumbu panjang sama-sama tidak setuju dengan istilah radikal atau fundamental, sebab radikal itu mengakar dan fundamental itu mendasar. Yang mereka tidak setujui adalah ekstrimisme dalam beragama, yakni orang-orang yang berlebihan dalam beragama, dalam pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) waktu sekolah dasar dulu kita sudah kerap dijelaskan oleh Bu Guru perihal ini. Suatu perilaku yang tidak diperbolehkan, menyimpang dari peraturan agama itu sendiri pun menyimpang dari aturan berbangsa dan bernegara : ekstrimis.

 

Bedanya dengan kaum sumbu pendek, kaum sumbu panjang ketika merespon suatu permasalahan terkait dengan perang opini yang menyentil-nyentil agamanya, kaum sumbu panjang lebih bisa “mengatur nafas”, emosinya tertata, keilmuannya matang. Namun yang perlu dicatat adalah, tetap bereaksi! Sumbu tetap memercikkan reaksi, namun tidak mudah meledak-ledak. Jeda terbakarnya sumbu ke bubuk mesiu ini bisa diatur sedemikian rupa. Yang perlu dicatat lagi ialah, tetap bisa meledak bila serangan-serang tidak bisa ditolerir lagi, misal agamanya dinista: Sebab, selain menyinggung agama hal ini juga merendahkan ideologi berbangsa bukan? Yang sejak dulu kita bisa rukun berdampingan tanpa harus saling menista.

Apapula Gak ada sumbunya?
Nah kaum ini adalah kaum pahlawan kesiangan, mereka lupa melipat selimutnya. Ingus masih di muka, rambut masih luar biasa njembrung. Namun mengaku paling di tengah-tengah, kaum Wasatiyyah nan moderat. Kaum rama, Tidak di kanan tidak di kiri, itu akunya. Mengklaim pewaris dakwah parabijak pertapa, perintis dakwah di nusantara ini

Padahal semua orang jelas melihat ingusnya, selimut yang menutupi celanya, rambutnya itu. Bahwasannya kaum yang mengaku tidak mudah meledak-ledak ini ialah kaum yang tidak sama sekali moderat. Mereka tidak ditengah-tengah pula, kanan tidak, kiri tidak. Kaum ini kaum yang tidak bisa meledak sekalipun dicocok hidungnya, Kaum tanpa sumbu! Pengambilan sikap Islam “rahmatan lil ‘alamin” dengan tanpa sumbu adalah salah fatal. Wasatiyah yg benar adalah bersumbu yg bs panjang bisa pendek bisa sedang. Dan hal itu bergantung pd situasi-kondisinya serta tetap berlandaskan ilmu (agama), bukan nafsu….Tabik.

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter