Menu

Tata Cara Haji (2) : Tiga Cara Manasik Haji

Pada kesempatan yang lalu kami sudah memaparkan Tata Cara Haji (1): Hukum dan Syarat Ibadah Haji. Yang pada intinya Ibadah haji merupakan rukun Islam, dalam artikel ini melanjurkan dari hukum dan syarat ibadah haji tersebut yakni  Cara Manasik Haji dalam tata cara haji.

Tata Cara Haji dapat dilakukan dengan memilih salah satu dari tiga cara manasik:

 Ibadah Haji Ifrad

Ifrad, Pengertian Haji Ifrad yaitu meniatkan haji saja ketika berihram dan mengamalkan haji saja setelah itu. Jadi, Ibadah haji dengan cara ifrad cara pelaksanaan haji ifrad adalah sebagaimana dimaksud dalam pengertian tersebut.

Ibadah Haji Qiran

Pelaksanaan Ibadah Haji Qiron, yaitu meniatkan umroh dan haji sekaligus dalam satu manasik. Menjadi Wajib bagi yang mengambil tata cara manasik qiron untuk menyembelih hadyu. Sehingga menurut definisi ini urutan ibadah haji qiran, cara pelaksanaan ibadah haji qiran, tata cara ibadah haji qiran berbeda dengan ibadah haji ifrad.

Ibadah Haji Tamattu’

Tamattu’, ialah berniat menunaikan umroh saja di bulan-bulan haji, lalu melakukan manasik umroh dan bertahalul. Kemudian diam di Makkah dalam keadaan telah bertahalul. Kemudian ketika datang waktu haji, melakukan amalan haji. Wajib bagi yang mengambil tata cara manasik tamattu’ untuk menyembelih hadyu.

Beliau Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Telah terdapat ijma’ (kesepakatan paraulama) bolehnya memilih melakukan salah satu dari tiga cara manasik yakni: ifrod, tamattu’ dan qiron, tanpa dikatakan makruh. Tetapi yang diperselisihkan para ulama adalah manakah tatacara manasik yang afdhol, lebih utama.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8: hal 169)

Hal kewajiban hadyu bagi yang mengambil tata cara manasik qiron dan tamattu’ disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) hadyu (qurban) yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang qurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.” (QS. Al Baqarah: 196). Wajibnya hadyu bagi yang mengambil manasik qiron dan tamattu’ adalah berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Lalu Manakah dari tiga tata cara manasik tersebut yang lebih utama? Dalam hadits mengenai tata cara manasik haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa beliau bersabda,

لَوْ أَنِّى اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ وَجَعَلْتُهَا عُمْرَةً فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْىٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً

Jikalau aku mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku maka aku tidak akan membawa hewan hadyu dan aku akan jadikan ihramku ini umrah, maka barangsiapa dari kalian yang tidak bersamanya hewan hadyu maka hendaklah dia bertahallul dan menjadikannya sebagai umrah.” (HR. Muslim no. 1218). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para sahabat untuk memilih tamattu’ dan berkeinginan dirinya sendiri melakukannya. Tidaklah beliau memerintahkan dan berkeinginan kecuali menunjukkan tamattu’ itu afdhol (lebih utama) (Fiqhus Sunnah, 1: 447-448).  Selain itu, manasik dengan tamattu’ itu lebih banyak amalannya dan lebih mudah secara umum (Syarhul Mumthi’, 7: 76-77)

Keterangan: Dam yang dikeluarkan untuk manasik qiron dan tamattu’ adalah dalam rangka syukur dan bukan dalam rangka menutup kekurangan saat manasik (Ar Rafiq fil Hajj, 35).

Permasalahan : Di dalam tata cara manasik tamattu’ telah disebutkan bahwa umroh dilakukan terlebih dahulu sebelum haji dilaksanakan, Artinya ia melakukan ritual umrah dahulu yang di dalamnya terdapat thowaf umrah dan sa’i umrah. Usai itu ia bertahallul dengan sebelumnya memendekkan rambut. Lalu bagaimana jika sebelum wukuf di Arafah, seseorang terhalangi tidak bisa melakukan umrah? Maka pilihannya adalah mengganti niat hajinya dari tamattu’ menjadi qiran. Sebagai Contoh dalam kasus ini adalah wanita yang telah berihram dari miqot dengan niat tamattu’. Lalu ia mengalami haidh atau nifas sebelum ia melakukan thowaf umrah. Ia barulah suci ketika datang waktu wukuf di Arafah. Sehingga artinya, ia belum sempat melakukan umrah pada haji tamattu’nya. Di saat itu, ia mengganti niatnya menjadi niatan qiron, dan ia terus dalam keadaan berihram. Ia tetap melakukan rukun dan kewajiban haji lainnya selain thowaf di Ka’bah. Sebab ia baru dibolehkan thowaf jika ia telah suci dan telah mandi (Al Minhaj li Muriidil Hajj wal ‘Umroh, 31-34).

-bersambung insya Allah-

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal sumber : muslim.or.id Tata Cara Haji (2) : Tiga Cara Manasik Haji

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter