Menu

Tragedi Tolikara, Benarkah Sebaiknya Ummat Muslim Harus Adem Ayem?

Kerusuhan di Tolikara dipicu oleh surat edaran Ketua GIDI wilayah Tolikara, Pendeta Nayus Wenea dan Sekretaris GIDI Pendeta Marthe Jingga kepada umat muslim di Tolikara. Surat yang juga disampaikan ke Kepolisian Resort Tolikara, dan Pemerintah Daerah tersebut berisi larangan umat Islam merayakan Idul Fitri di Karubaga Tolikara. Mereka juga meminta umat Islam tak berjilbab. Meski begitu, pada surat edaran yang sama, Nayus menjelaskan pihaknya juga melarang pemeluk agama mendirikan tempat ibadah di Tolikara (Tempo)

Pigai, Tokoh Komnasham membenarkan tentang  surat edaran yang ditulis pada 11 Juli 2015. Dalam surat tersebut tertulis jemaat GIDI sengaja melarang perayaan Idul Fitri yang bersamaan dengan Seminar dan KKR Pemuda GIDI pada 13-19 Juli 2015

 

Banyak tokoh menyarakan agar Ummat Islam tetap adem ayem untuk menyikapi hal itu. Berikut tanggapan saya untuk pernyataan yang meminta agar ummat islam adem ayem menghadapi peristiwa di Tolikara Papua.

Tragedi Tolikara merupakan salah satu bentuk permasalahan Ummat Islam. Yakni, ketidaksiapan ummat dalam menghadapi berbagai peristiwa. Masjid dibakar jelas sebuah peperangan melawan Islam, jika mau membuka mata. Dakwah mengobarkan Jihad adalah upaya mempertahankan kehormatan dan membela kaum muslimin yang terdzolimi. Dakwah juga adalah amal mengajak manusia kembali kepada Islam dengan kesantunan dan kelemah lembutan. Dua bentuk amal dakwah itu harus bisa digabung dengan seimbang, balance.

Untuk itu, saya mengingatkan diri pribadi dan para da’i di seluruh negeri. Tugas para da’i diluar Papua khususnya Pulau Jawa adalah mengobarkan semangat pembelaan Islam, demi menjaga kehormatan Ummat Islam. Dan itu adalah keteladanan yang baik di wilayah mayoritas muslim. Dan tugas da’i di Papua adalah memperlihatkan keteladanan yang baik dengan bersikap lemah lembut agar penduduk mendekat kepada Islam. Dua duanya sama sama teladan. Teladan di dua pulau yang berbeda.

Saudaraku, Jadi kemarahan melihat orang kafir mendzalimi Ummat Islam adalah tanda iman. Kalau tidak marah maka itu pertanda imannya tipis, bahkan hilang.

Meskipun perwujudan kemarahan itu harus dibentuk dalam wadah yang baik dan tidak menimbulkan madhorot (dampak negatif) yang lebih besar terhadap Ummat Islam.

 

Ikhwan, Aktifis Dakwah Yogyakarta.

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter