Menu

Urgensi Majelis Pesantren di Muhammadiyah [1]

Oleh :  Drs.Budi Nurastowo Bintriman *)

Kondisi Obyektif Perkaderan Ulama

Sumbangsih Persyarikatan Muhammadiyah selama satu abad kepada umat Islam dan bangsa Indonesia dalam menegakkan ajaran-ajaran Islam dan menggairahkan gerakan amar makruf nahi mungkar, tak terbantahkan siginifikansinya. Tetapi dalam beberapa dekade ini mulai dirasakan adanya penurunan ghirah dakwah Islam amar makruf nahi mungkar, dan lunturnya pengamalan nilai-nilai Islam. Gejala ini terjadi karena Persyarikatan Muhammadiyah mengalami krisis kader atau tokoh ulama, dan tergerusnya qudwah di dalam tubuhnya.

Di sisi lain, Persyarikatan Muhammadiyah memiliki beribu-ribu sekolahan, dan sudah melahirkan puluhan juta alumni. Tetapi kenyataannya, puluhan juta alumni sekolahan Muhammadiyah itu nyaris tak memberi pengaruh positif apapun pada krisis tersebut di atas. Kalaupun ada, alumni sekolahan Muhammadiyah yang menjadi kader atau tokoh ulama, jumlahnya sangat-sangat minim.

Atas dasar kondisi tersebut di atas, kita semua wajib merasa prihatin, untuk kemudian mengambil langkah-langkah tertentu guna mengatasinya. Maka perlu kiranya, kita menengok kembali sistem pendidikan ala pesantren. Di mana substansi pendidikan ala pesantren ini sesungguhnya telah lama diaplikasikan untuk melahirkan out put yang handal sesuai harapan. Kita dapat mengambil contoh dalam bidang olah raga ada Asrama Atlet, dalam bidang kemiliteran ada Asrama Taruna AKABRI, dan asrama sekolah-sekolah kedinasan lainnya.

Perkaderan Ulama Ala Pesantren

Jika kita ingin menyiapkan kader ulama yang handal sesuai harapan, maka mau tak mau harus berani mengokohkan sistem pendidikan ala pesantren. Sesungguhnya ini pulalah yang diinginkan KH. Achmad Dahlan. Mengapa kita harus mengokohkan sistem pendidikan  ala pesantren ? Berikut ini adalah alasan-alasannya : Pertama, di saat Persyarikatan Muhammadiyah mulai merasakan adanya bahaya gerakan sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme agama (Islam), maka satu-satunya fihak yang mampu menangkisnya adalah ulama. Sedangkan ulama hanya bisa dilahirkan dari rahim pondok pesantren yang menerapkan sistem pendidikan khusus, jauh dari pengaruh polusi-polusi subhat, intensif, dan berbasis keteladanan dari Kyai, Mudir, para Pengasuh, serta para Ustadz.

Kedua, sistem pendidikan pondok pesantren di zaman modern ini, sudah tak lagi mendikotomikan antara pelajaran-pelajaran agama dengan pelajaran-pelajaran umum. Maka harapannya, sistem pendidikan pondok pesantren akan mampu melahirkan ulama yang berwawasan luas, dan akan melahirkan cendekiawan yang berwawasan islami. Di sinilah sesungguhnya inti dan karakter pendidikan Islam.

Ketiga, sistem pendidikan pondok pesantren mengintegrasikan antara teori (kognitif) dengan praktek atau keterampilan (psikomotorik), antara penanaman atau penguatan keyakinan dengan pengamalan untuk mencapai keseimbangan antara intelegence quotion (IQ) – emotional quotion (EQ) – dan spiritual quotion (SQ). Semua upaya integrasi tersebut berlangsung secara intensif 24 jam dalam sehari.

Keempat, krisis kelangkaan kader ulama di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah bisa diatasi secara cepat dan tepat dengan mengokohkan sistem pendidikan pesantren secara serius dan lebih fokus. Untuk itulah diperlukan adanya majelis khusus (Majelis Pesantren) untuk menangani pondok-pondok pesantren Muhammadiyah, agar pengelolaannya jauh lebih serius dan fokus, bukan sekedar sambilan dan setengah-setengah. [Bersambung : Urgensi Majelis Pesantren dan Kelangkaan Kader Ulama Muhammadiyah [2]]

 

*) Drs.Budi Nurastowo Bintriman adalah Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syifa’ Muhammadiyah Yogyakarta

Bagikan:
.NET Sabilillah.NET merupakan media Islam yang terbentuk sebagai perlawanan terhadap hoax, bertujuan memperkaya khasanah informasi keislaman dengan Islamic World View.

No comments

Leave a Reply

Follow me on Twitter